Hadi Sakera. Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 29 Februari 2012


Read More......

Rabu, 26 Oktober 2011

Ekskutor Muammad Khadafy

video
Video mengaku sebagai ekskutor Khadafy, menunjukkan cincin dan pakaian Khadafy sesaat setelah ditembak di kepala dan perutnya... Tampak di dalamnya detik2 setelah Khadafy tertangkap dan dianiaya...
Read More......

Sabtu, 05 Maret 2011

Politik Sandera

Politik Sandera
Oleh M. Aliyulloh Hadi

Tampilnya partai Demokrat sebagai partai pemenang pemilu pada 2009 lalu, menyisakan harapan yang besar bagi masyarakat Indonesia. Tampilnya SBY untuk kedua kalinya diharapkan mampu menjadi penyelamat Indonesia sebagai nation-sate yang hampir saja menjadi negara gagal (failed state) paska runtuhnya kekuasaan orde baru. Namun, fakta politik mutakhir menyentak publik dan membuat masyarakat Indonesia pesimis terhadap masa depan politik Indonesia.

Kemenagan SBY yang diusung partai koalisi diharapkan mampu menjadi kekuatan dominan sehingga dengan mudah mampu merealisasikan program-program pemerintah yang telah dicanangkan. Tentunya demi memperbaiki kehidupan bangsa dan rakyat Indonesia. Namun demikian, arus besar koalisi pendukung pemerintah ternyata tidak menjamin lahirnya pemerintahan yang kuat dan berwibawa. Kroposnya jalinan koalisi yang ada menyebabkan pemerintah seringkali disibukkan dengan manuver parlemen yang seringkali merepotkan pemerintah. Ini bisa kita saksikan misalnya dalam kasus pembentukan Pansus Century dan Pansus Mafia Pajak beberapa waktu yang lalu.

Manuver partai peserta koalisi khususnya Golkar dan PKS yang cendrung berseberangan dengan partai Demokrat dalam banyak hal membuat publik bertanya, apa sebenarnya yang terjadi dalam koalisi besar partai pendukung pemerintah? Apakah ini hanya sekedar manuver untuk menaikkan bergaining politik? Bukankah Golkar dan PKS adalah bagian dari pemerintah dimana beberapa kadernya menjadi menteri dalam pemerintahan SBY?

Demokrat sebagai partai penguasa tidak lah tinggal diam. Beberapa kali partai Demokrat menggertak partai-partai koalisi yang nakal, mulai dari ancaman reshufle kabinet, menjalin kemungkinan kemungkinan koalisi dengan partai oposisi seperti Gerindra dan PDIP, atau bahkan mengancam membubarkan Setgab yang diketuai oleh Ical, ketua umum partai Golkar. Tak jarang pula, Demokrat balik mengancam akan membongkar borok partai Golkar untuk menjinakkan keliaran mereka, seperti yang pernah terlontar oleh mantan pengacara gaek yang juga anggota DPR fraksi Demokrat, Ruhut Sitompul.

Namun sepertinya, gertakan itu hanya menjadi angin lalu. Golkar dan PKS terus saja membuat repot pemerintah. Pansus Century yang dimotori Golkar dan PKS, meski tidak sampai menjungkalkan pemerintahan SBY, namun telah berhasil memukul telak citra pemerintah di mata publik. Angket pajak yang juga dimotori oleh Golkar dan PKS beberapa waktu lalu tentunya merupakan salah satu proyek besar mereka untuk menjatuhkan citra pemerintah di mata publik, kalau bahkan untuk benar-benar mendongkel pemerintahan SBY.

Sikap politik seperti ini sebenarnya sangat disayangkan. Memang dalam politik tidak ada kawan abadi. Namun dalam sistem demokrasi modern, dikotomi antara partai oposisi dengan partai koalisi tentu memiliki definisi yang jelas. Adanya dua kubu dalam pemerintahan modern tersebut merupakan sesuatu yang niscaya demi terciptanya equalibirium politik dan berjalannya check and balence dalam berdemokrasi. Oleh karena itu, kalau ada partai oposisi yang selalu menunjukkan sikap pro terhadap pemerintah, hal tersebut tentu merupakan sikap inkonsisten, begitu juga sebaliknya.

Sepertinya, manuver Golkar dan PKS yang selalu berbuat nakal, adalah bagian dari proyek pertarungan citra politik. Tentu Golkar telah belajar pada masa lalu, dimana sikap selalu pro pemerintah yang mereka lakukan pada periode sebelumnya harus mereka bayar dengan merosotnya perolehan suara dalam pemilu 2009 lalu. Karena bagaimanapun, keberhasilan pemerintah hanya akan menguntungkan bagi partai yang berkuasa, bukan bagi partai koalisi. Ini terbukti dengan kemenangan partai Demokrat pada 2009 lalu. Dan publik harus siap-siap untuk selalu menyaksikan permainan politik saling menyandera pada masa-masa berikutnya jika konfigurasi politik koalisi pemerintah paska angket pajak masih tetap sama.

Demokrat Harus Tegas
Sebagai partai penguasa, Demokrat tentu menginginkan partai peserta koalisi tetap solid dan satu suaru mendukung pemerintah. Kalau selama ini ada partai peserta koalisi yang selalu mbalelo, dan main belakang dengan pemerintah, Demokrat seharusnya berani mengambil langkah tegas, yakni dengan melakukan reshufle kabinet sebagai evaluasi komitmen koalisi serta melakukan restrukturisasi terhadap partai peserta koalisi.
Sikap tegas partai Demokrat juga akan dapat meminimalisir adegan politik saling sandra yang selama ini terjadi baik antara partai pendukung maupun partai oposisi. Indonesia jangan sampai menjadi arena barter kasus dan tukar guling kesalahan dan kelemahan masing-masing partai politik. Tradisi seperti ini hanya akan menghilangkan subtansi demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia.

Dukungan Gerindra dan kesan tidak solidnya PDIP saat mendukung angket pajak beberapa waktu lalu adalah sinyalemen positif bahwa sesungguhnya masih terbuka peluang bagi demokrat untuk merangkul partai-partai politik yang selama ini memilih untuk beroposisi dengan pemerintah. Demokrat sekali lagi harus berani untuk menata kembali kekuatan pendukung pemerintah di parlemen kalau tidak ingin kembali berhadapan dengan manuver-manuver liar dari partai-partai peserta koalisi. Publik sudah bosan menyaksikan sandiwara yang dipertontonkan oleh elit politik bangsa ini.
Read More......

Sabtu, 04 Desember 2010

Indonesia mengganyang Malaysia 5-1 2010

video



Sumber : http://www.youtube.com/watch?v=v6GMwy44jUE Read More......

Indonesia mengganyang Laos 6-1

video




Sumber: http://www.youtube.com/watch?v=CO1RUAAijVo Read More......

Senin, 29 November 2010

IF I WERE INDONESIAN PRESIDENT (part 2) (PENGELOLAAN SUMBER DAYA DAN KEKAYAAN ALAM)

IF I WERE INDONESIAN PRESIDENT (part 2)
(PENGELOLAAN SUMBER DAYA DAN KEKAYAAN ALAM)
Oleh M. Aliyulloh Hadi

POTENSI INDONESIA
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki kekayaan alam sangat berlimpah. Tanah di Indonesia merupakan salah satu tanah tersubur di dunia. Hampir semua tumbuhan di dunia bisa tumbuh dengan subur di tanah Indonesia. Selain itu, di dalam tanah Indonesia terkandung berbagai suumberdaya mineral seperti, emas, timah, baja, gas, minyak, batu bara dan sumberdaya mineral lainnya yang juga sangat melimpah.

Di samping itu, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki 17.504 pulau dengan luas wilayah perairan mencapai 5,8 juta km2 dan panjang pantai 95,181 km. Indonesia merupakan negara nomor empat terpanjang pantainya yang memiliki 75% wilayah berupa lautan. Di dalam laut Indonesia terkandung berbagai kekayaan laut seperti terumbu karang (14 persen dari terumbu karang dunia), minyak, dan terdapat 2500 jenis ikan hidup di perairan Indonesia.

Indonesia yang terletak di antara dua benua, Asia dan Australia serta berada di antara dua Samudera, Pasifik dan Hindia memiliki potensi unggulan yang sangat strategis ditinjau dari sudut geopolitik, geostrategi dan geoekonomi serta merupakan kawasan yang dinamis dalam percaturan politik, ekonomi, budaya dan pertahanan.

Indonesai juga memiliki sumberdaya manusia yang besar. Jumlah penduduk Indonesia, berdasarkan sensus penduduk 2010, mencapai 235 juta jiwa (BPS: 2010). Jumlah penduduk Indonesai tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah, Cina, India dan Amerika Serikat.

KONDISI OBJEKTIF INDONESIA
Namun demikian, kekayaan sumberdaya alam di Indonesia ternyata tidak membuat rakyat Indonesia hidup makmur dan sejahtera. Kemiskinan di Indonesia mencapai 14-15 % atau sekitar 34 juta jiwa. Disamping itu, Pengangguran di Indonesia kini mencapai 8,59 juta orang atau 7,41 persen dari total angkatan kerja di Nusantara sebanyak 116 juta orang (BPS: 2010). Bahkan lebih  na’as lagi data yang dilansir oleh Bank Dunia, orang miskin di Indonesia mencapai 120 juta jiwa (Na’udzubillah)

Dengan tingkat kesuburan tanah yang luar biasa ditambah dengan kekayaan alam yang terkandung di dalam tanah Indonesia, tidak selayaknya para petani kita selalu bernasib buruk dan tidak dapat bangkit dari kemiskinan. Demikian juga dengan para nelayan Indonesia hidup dalam keterbatasan ekonomi yang memilukan, meski hidup di daerah bahari Indonesia yang luas dan memiliki kekayaan berbagai varietas ikan yang terkandung di dalam lautan Indonesia.

Kualitas Sumberdaya Manusia Indonesia juga bisa dibilang sangat payah. Dari total 235 penduduk Indonesia, hanya ada 23 ribu yang sudah mendapat gelar S-3 atau tidak sampai 1 persen, dan 2.200 orang diantaranya bergelar Profesor. Padahal Filipina yang jumlah populasi penduduknya sekitar 18 juta jiwa, warga Filipina yang bergelar PhD mencapai Rp14.000 orang. Belum lagi Singapore, dan Malaysia.


SUMBER KEKAYAAN INDONESIA DIKUASAI OLEH BANGSA ASING
Sejak orde lama tumbang di era tahun 70 - an bersamaan dengan munculnya rezim orde baru, Perusahan asing baik dari Amerika dan Eropa dengan sangat leluasa mencaplok dan mengeksploitasi kekayaan alam Indonesia. Sumberdaya alam yang dinikmati oleh perusahaan-perusahaan asing, menurut data yang dimuat dalam majalah Forbes, menjadi perusahaan-perusahaan yang masuk 10 besar terkaya di dunia antara lain:

1. Exxon Mobil, pendapatan $390.3 billion/tahun, gaji CEO, Rex W. Tillerson, $4.12M/tahun
3. Shell, pendapatan $355.8 billion/tahun, gaji CEO, Jeroen van der Veer, €7,509,244
4. British Petroleum, pendapatan $292 billion/tahun, gaji CEO, Tony Hayward, $4.73M
6. Total S.A., pendapatan $217.6
7. Chevron Corp., pendapatan 214.1 billion/tahun, gaji CEO, David J. O’Reilly, $7.82M
10. ConocoPhillips, pendapatan $187.4 billion/tahun, gaji CEO, James Mulva, $6.88M

Total dari perusahaan itu saja (10 perusahaan teratas versi Forbes 500) yang juga beroperasi di Indonesia mengelola kekayaan alam kita, itu US$ 1.655 milyar atau sekitar 17 ribu trilyun/tahun. Di antaranya berasal dari kekayaan alam Indonesia. Jumlah itu 17 kali lipat dari APBN Indonesia tahun 2010 yang hanya mencapai Rp Rp 1.047,7 triliun. Dari data di atas, cukup aneh jika Indonesia yang katanya untuk Migas dapat 85% (kalau Pertambangan lain Indonesia memang cuma dapat 15%) dan asing cuma 15% ternyata dapat tidak lebih dari Rp 350 trilyun/tahun dari Migas sementara 6 perusahaan migas tersebut yang “cuma” dapat 15% bisa mendapat Rp 17.000 Trilyun! Atau 5.600% lebih! Itu belum dari berbagai perusahaan lain seperti Freeport, Newmont, BHP, dsb yang menguasai emas, perak, tembaga, nikel, dsb di Indonesia. Bisa jadi total penerimaan mereka sekitar Rp 30 Ribu Trilyun/tahun. (http://juhernaidy.blogspot.com/2010/02/selama-kekayaan-alam-dirampas-asing.html)

AGENDA STRATEGIS PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM INDONESIA
  1. Presiden akan menasionalisasi seluruh sumberdaya alam Indonesia yang dikuasai oleh perusahaan asing, karena telah melakukan penipuan besar-besaran terhadap bangsa Indonesia.
  2. Presiden akan menginstruksikan kepada para Doktor dan Profesor serta para Profesional Indonesia yang bekerja di luar negeri/atau di perusahaan-perusahaan asing untuk bekerja di BUMN nasioanal dan akan memberikan gaji sebesar gaji yang mereka terima saat bekerja di luar negeri/ perusahaan-perusahaan asing sebelumnya.
  3. Presiden akan melakukan revolusi sistemik terhadap perusahaan-perusahaan Negara dan BUMN, sebagaimana telah dilakukan juga pada sistem aparatur birokrasi dan pemerintahan.
  4. Presiden akan bekerjasama dengan negara lain yang bersedia untuk menjadi tenaga Ahli dalam mengeksplorasi kekayaan dan sumberdaya alam Indonesia, apabila SDM Indonesia belum sanggup melakukan pengelolaan secara mandiri, namun pengelolaannya tetap berada di bawah BUMN.
  5. Presiden akan memanfaatkan hutan untuk lahan pertanian strategis secara massal guna memperkuat ketahan pangan nasional serta membuka lapangan kerja baru bagi masyarakay Indonesia.
  6. Presiden akan secara tegas tanpa pandang bulu, menindak dan menghukum para pelaku illegal logging dan illegal fishing yang beroperasai di wilayah kedaulatan NKRI, baik yang dilakukan oleh WNI lebih-lebih yang dilakukan oleh WNA.
  7.  Presiden akan menyekolahkan 1000 anak-anak terbaik bangsa Indonesia ke luar negeri untuk belajar ilmu nuklir, telekomunikasi, perkapalan, antariksa, pertambangan, pertanian, kehutanan, kelautan dll, sebagai usaha untuk alih tekhnologi modern ke Indonesia.
Dalam jangka 10 hingga 20 tahun ke depan, Indonesia diharapkan akan menjadi negara Importir terbesar dan terkaya di Dunia dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi serta pendidikan yang berkualitas.

Apabila dalam jangka waktu DUA TAHUN Presiden tidak mampu merealisasikan agenda-agenda tersebut di atas, maka presiden akan mengundurkan diri.. Terima Kasih.
Read More......

LBB IMI Malang

Arsip

Loading...
  

Traffic

Site Meter

Total Laman

Komunitas

 

Copyright © 2009 by M. Aliyulloh Hadi

Template by Blogger Templates | Powered by Blogger