Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 November 2010

Bangsa Tanpa Identitas

Bangsa Tanpa Identitas
M. Aliyulloh Hadi

Secara Historis, dari aspek kepercayaan, konon nusantara dulunya merupakan penganut dinamisme dan animisme. Ketika terjadi migrasi bangsa india dan cina yang beragama Hindu dan Budha, bangsa nusantara kebanyakan menjadi penganut dua agama tersebut. Demikian juga ketika Islam dan Kristen masuk ke nesantara lewat pedagang muslim dan misionaris eropa di era kolonial, bangsa nusantara pun kebanyakan beralih agama menjadi penganut Islam dan Kristen hingga hari ini. Agama yang di anut bangsa nusantara paska konversi agama juga mempengaruhi terhadap kebudayaan dan tradisi bangsa nusantara.

Agama dari luar nusantara yang dianut juga memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan sosial politik bangsa nusantara. Kerajaan-kerajaan yang pernah tumbuh dan berkembang di nusantara hampir semuanya memiliki embel-embel agama tertentu. Nusantara misalnya pernah memiliki Kerajaan Hindu, Kerajaan Budha, Kesultanan Islam bahkan negara nusantara modern, Republik Indonesia, merupakan sistem kenegaraan yang bukan produk geneologis pemikiran bangsa nusantara.

Singkatnya, sebagai bagian dari bangsa nusantara, apa yang kita ikuti hari ini, baik itu tata nilai, ajaran, budaya, tradisi, sistem negara, agama dan lain-lain, bukanlah produk bangsa nusantara sendiri. Hampir semuanya merupakan turunan dari induk peradaban yang datang ke nusantara ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, baik itu Hinduisme, Budhaisme, Islamisme ataupun Humanisme Eropa. Bisa dikatakan kita ini bangsa yang mudah mengikuti dan terpengaruh oleh sesuatu yang sifatnya impor. Disadari atau tidak, hampir semua relung-relung kehidupan bangsa Indonesia adalah imitasi. Demokrasi imitasi, Relijiusitas imitasi, sistem pendidikan imitasi, life style imitasi, dan imitasi-imitasi lainnya, yah palsu.

Dalam konteks Indonesia modern, sepertinya kebudayaan barat, dengan sifat kebudayaannya yang ekspansif, memiliki peran dominan dalam mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia. Kita bisa saksikan bagaimana kebudayaan tersebut menyeruak di tengah-tengah bangsa Indonesia dengan sistematis dan massif. Lihat saja, gaya hidup bangsa Indonesia hari ini, lihat saja cara berpakain kaum muda bangsa ini, tengok saja pergaulan remaja masa kini, sudah menyerupai apa yang mereka tiru di TV. Bahkan hampir tidak ada bedanya.

Kalau begitu, apa yang dipunyai bangsa ini? Apa yang bisa diandalkan bangsa ini? Apa yang dapat kita banggakan sebagai sebuah bangsa? Bukankah sebenarnya kita tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki sesuatu yang berharga? Tidak memiliki kontribusi apa-apa kepada dunia? Wong bisanya hanya meniru dan terpengaruh oleh sesuatu yang datang dari luar rumah kita? Tidak mampu menciptakan sesuatu yang berharga untuk kita ikuti dan kita pegang teguh sebagai bangsa yang katanya besar.

Tapi sebagai sebuah bangsa, apakah kita mau disebut sebagai bangsa dengan identitas imitasi, identitas comot sana comot sini, identitas pengikut, dan tentunya identitas bangsa inferior yang hanya bisa mengikuti dan dipengaruhi oleh identitas bangsa lain? Tapi kan faktanya memang begitu, kita ini bangsa yang latah, bangsa yang mudah meniru. Entahlah…

Rabu, 10 November 2010

Sekolah itu Membosankan

Sekolah itu Membosankan
Oleh: M. Aliyulloh Hadi

Pendidikan seringkali diidentikkan dengan istilah sekolahan, paling tidak di daerah tempat saya tinggal. Ini artinya bahwa Pendidikan itu identik dengan gedung sekolah, guru, buku pelajaran, kurikulum dan tentunya biaya. Sederhananya, istilah pendidikan itu merupakan kata lain dari jenjang formal pendidikan di Indonesia, mulai dari SD, SMP, SMA dan Perguruan tinggi.

Pendidikan formal kita bukan tanpa masalah. Masalah yang paling kentara adalah dualisme menegemen pendidikan di Indonesia. Sektor pendidikan bukan hanya merupakan wilayah kerja dari Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), namun juga menjadi wilayah kerja Kementrian Agama (Kemenag). Kemdiknas mengayomi sekolah-sekolah dan perguruan tinggi umum, baik negeri maupun swasta, sedangkan Kemenag mengayomi sekolah-sekolah dan perguruan agama, juga, baik negeri maupun swasta. Kondisi tersebut, seolah menjadi penegas adanya sisa-sisa sekularisasi di sektor pendidikan nasional.

Di samping itu, permasalah lain yang juga menjadi persoalan pendidikan nasional adalah masih banyak nya lembaga-lembaga pendidikan non-formal, khususnya yang terdapat di pesantren-pesanten tradisional. Jurang pemisah antar sektor formal dan non-formal pendidikan tampak semakin nyata. Pesantren dan Madrasah Diniyah dianggap sebagai pendidikan non-formal, dan tentu hanya mendapatkan bantuan dana yang hanya “secuil” dibandingkan dengan lembaga-lembaga pendidikan formal baik yang berda di bawah Kemdiknas maupun Kemenag. Melihat fenomana tersebut, semakin menambah curam sekularisasi di sektor pendidikan di Indonesia.

Sejatinya, sistem pendidikan nasional di Indonesia merupakan warisan sistem pendidikan Eropa, khususnya Belanda. Sistem tersebut merupakan adopsi dari sistem pendidikan Belanda saat terjadi politik etis di era kolonial. Sebagai negara sekuler, Belanda tentunya memisahkan antara pendidikan umum dan pendidikan agama, namun anehnya sistem tersebut diterapkan di Indonesia, yang mayoritas merupakan ummat beragama, hingga detik ini.

Akan cukup panjang menyoal sistem pendidikan nasional. Penulis hanya ingin merefleksikan kondisi pendidikan di Indonesia dari pengalaman pribadi, sebagai salah satu ‘jebolan’ dari struktur pendidikan nasional di Indonesia.
Pertama, Sebagai orang yang pernah sekolah baik pada pendidikan formal dan non formal, saya merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Dan ini mungkin menjadi pengalaman pribadi, yang bisa jadi, juga dirasakan oleh seluruh siswa-siswa yang hari ini di gembleng di dalam gedung-gedung formal pendidikan nasional.

Saat menjadi siswa baik di MI, MTs maupun MA, saya dan hampir seluruh teman-teman yang adalah para siswa yang sangat cinta dengan hari libur. Libur merupakan surga bagi kami. Libur membuat kami bahagia, meski hanya sesaat. Bermain lebih menyenangkan dari pada sekolah. Ini berarti, secara psikologis, saya dan teman-teman saya merasa bosan dengan sekolah dan tentu proses-proses di dalammya. Saya tidak tahu, apakah ini terkait dengan kemalasan saya dan teman-teman yang lain, atau memang sekolah itu tidak menyenangkan dan membuat para siswa seringkali bosan dengan rutinitas dalm pendidikan tersebut.

Selain itu, saat proses belajar mengajar, kami sangat berharap guru tidak datang ke kelas kami, kami sangat menginginkan untuk tidak ada proses belajar mengajar. Kami merasa malas dan bosan dengan apa yang menjadi rutinitas. Tidak ada variasi, tidak ada kesenangan dan tidak ada rasa nyaman mendengarkan para Guru “menceramahi” kami. Bukan hanya itu, kami juga merasa tidak termotivasi dan cendrung tidak menikmati proses belajar mengajar tersebut. Semuanya di nilai dengan angka. Saya juga tidak tahu, apakah ini memang karena kemalasan kami, atau struktur pendidikan itu yang membuat kami tidak nyaman dan selalu merasa bosan.

Hal tersebut juga saya rasakan saat menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam di kota Malang. Perasaan yang kami rasakan saat sekolah dulu, ternyata juga kami rasakan di kampus, the center of exelent, katanya. Saya dan kebanyakan teman-teman sangat gandrung dengan hari libur, jam kosong, dan beberapa yang lain, terlelap di kelas-kelas megah kampus kami. I am bored, and I always sleepy in the class, begitulah kira-kira curahan perasaan kami saat kuliah dulu. Meski ada segelintar teman-teman kami yang sangat rajin di kelas, namun saya melihat hal tersebut karena mereka terus memaksa diri dan berusaha untuk menikmati sajian parade pendidikan dalam kampus kami, bukan karena pendidikan itu nyaman dan menyenangkan.

Saat saya dan teman-teman masih duduk di bangku MI, SMP dan SMA, bebrapa dari kami, malah mendapatkan banyak hal dari apa yang bisa disebut, informal dan tidak resmi. Kebosanan-kebosanan dalam formalisme pendidikan yang kami jalani menemukan penawar saat kami berada di lingkungan-lingkungan pendidikan informal, baik itu di pondok pesantren, ngaji sorokan, maupun lembaga-lembaga kursus yang lain yang kami ikuti. Saya secara pribadi mendapatkan api dan motivasi pendidikan malah dari lembaga informal yang tidak resmi tersebut.
Saat menjadi mahasiswa, kami juga banyak mendapatkan angin segar ketika aktif di lembaga-lembaga pendidikan informal, baik itu pembaga intra kampus maupun ekstra kampus. Dan saya merasa “sepertinya” lebih mendapatkan banyak hal dari lembaga-lembaga informal yang gratisan tersebut, ketimbang dari lembaga pendidikan formal yang menggunakan biaya yang tidak sedikit. Lebih penting lagi, saya dan sebagian teman-teman yang lain lebih menikmati proses pendidikan informal tersebut.

Dari yang informal itu, kami belajar tentang arti kehidupan, arti perkawanan, arti kemanusiaan. Dari lembaga non profit tersebut, kami belajar memahami dan mencari identitas kami sendiri, belajar menulis, termotivasi untuk mebaca, berdiskusi dan banyak hal lain yang tidak kami dapatkan di bangku-bangku formal pendidikan.

15 tahun duduk di kursi pendidikan formal, saya merasa tidak mendapatkan banyak hal, kecuali hanya pengetahuan-pengetahuan yang sebenarnya dapat kami dapatkan dengan membaca. Sepanjang masa pendidikan formal tersebut, saya hanya memperoleh empat lembar ijazah tanda lulus. Selebihnya, saya mencari sendiri di lorong-lorong kehidupan nyata, di gang-gang sempit tempat kami tinggal bersama teman-teman yang lain.

Ya, semoga saja hal tersebut tidak dirasakan oleh sebagian besar alumni pendidikan formal di Indonesia. Karena kalau hal tersebut terjadi, tentu mereka akan sangat kecawa. Semoga menjadi renungan kita bersama, khusunya para pendidik dan elit lembaga pendidikan di negeri ini. Bahwa kebosanan-kebosanan yang mendera sebagai besar siswa dan siswi dalam proses belajar mengajar di Indonesia merupakan sinyalemen penting bahwa pendidikan di Indonesia masih sangat membosankan dan jauh dari menyenangkan. Wallohu A’lam...

Sabtu, 06 November 2010

Orang Waras dan Orang Gila

Orang Waras dan Orang Gila
Oleh: M. Aliyulloh Hadi

Beberapa kali saya melihat orang gila dijalanan yang saya lewati. Saya sempat berfikir, bagaimana mereka bisa bertahan hidup? mereka tidak punya pekerjaan, tidak memiliki tempat tnggal, tidak memiliki penghasilan dan seringkali di acuhkan oleh keluarga dan masyarakat. Saya berusaha berfikir sejenak sambil terus mengamati prilaku mereka, khususnya bagaimana mereka mengisi perut mereka setiap hari.

Setelah memperhatikan prilaku orang gila di beberapa tempat yang sempat saya kunjungi, ternyata orang gila memiliki banyak cara untuk mendapatkan makanan. Sebagian dari mereka mengambil sisa-sisa makanan di tong sampah, meminta uang kepada para pedagang di pasar dan sebagian lagi langsung meminta makanan kepada beberapa pedagang makanan di pasar ataupun di pinggiran jalan raya. Menurut saya, itu semua halal, kalau toh mereka mencuri itu karena memang mereka sudah tidak memiliki akal dan masyarakat akan memaklumi hal itu.

Setelah memahami prilaku orang gila dalam mengisi perut mereka, saya mulai membandingkan prilaku orang gila dan orang waras dalam hal mengisi perut. Dalam hal ini saya rasa orang waras harus banyak belajar kepada orang gila. Memang nafsu makan orang gila tidak hilang meski akal mereka telah lenyap entah kemana, namun meraka selalu hidup bersahaja.

Namun anehnya, orang waras yang memiliki akal sehat ternyata menjadi lebih serakah. orang gila akan merasa puas setelah perutnya kenyang. Ini berbeda dengan kebanyakan orang yang masih waras. Orang waras seringkali masih saja merasa kekurangan meski perutnya sudah sangat kenyang. Orang waras tidak pernah puas dengan semua yang ia peroleh, merasa kurang dan kurang, bahkan sebagian dari orang waras itu seringkali "mencuri" hak orang lain, melakukan korupsi dan memperkaya diri dengan cara yang tidak benar. Akal yang masih dimiliki oleh yang mengaku masih waras seharusnya menjadi pengendali nafsu yang melakat dalam diri, bukan sebaliknya.

Akhirnya, kesimpulan saya bahwa "orang waras tidak lebih baik daripada orang gila ketika orang waras tersebut memiliki nafsu yang lebih gila dari orang gila". Jangan-jangan orang gila itu menertawakan kita yang mengaku waras padahal sebanarnya gila .wallohu'alam..

Jumat, 05 November 2010

Nasab dan Nasib

Nasab dan Nasib
Oleh: M. Aliyulloh Hadi

Sebagai manusia, kita tidak dapat memilih untuk menjadi laki-laki atau perempuan, menjadi anak bupati atau pedagang asongan, tidak pernah dapat memilih untuk dilahirkan dari rahim keluarga berada atau dari keluarga kurang berada. Semuanya adalah taken for granted, sudah ditentukan dari 'sono' nya. Namun demikian sebagai seorang manusia, kita dianugerahi potensi yang sama oleh Sang Pencipta. Dari bangsa manapun dan dari keluarga apapun kita berasal, Tuhan telah menganugrahkan kepada manusia fisik yang sempurna, akal yang sehat, otak yang cerdas, hati yang halus dan peka serta jiwa yang lapang. Sebagian kecil dari manusia memang diciptakan dalam penciptaan yang kurang sempurna, ada yang cacat mental dan cacat fisik sejak dari lahir, namun hal tersebut sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa. Mereka tidak dapat memilih, tidak dapat meminta untuk bisa menjadi sempurna seperti manusia pada umumnya.
Sebagai manusia yang diciptakan dalam Kesempurnaan dhohir dan bathin (fisik dan mental), tentu kita harus selalu bersyukur. Rasa syukur tersebut salah satunya termanifestasikan dengan cara menggunakan kesempurnaan tersebut secara maksimal untuk hal-hal yang positif dan mengerahkan potensi tersebut untuk kebaikan alam smesta. Karena kesempurnaan itulah yang membuat Tuhan 'menvonis' manusia sebagai fi ahsani taqwim, puncak ciptaan yang paling sempurna dari semua mahluk yang telah diciptakan-Nya. Kesempurnaan pada manusia itulah yang membuat Tuhan mendaulat manusia sebagai Kholifah fil ardh, pemimpin di muka bumi.

Namun demikian, tidak sedikit dari kita yang menyianyiakan kesempurnaan tersebut. Bahkan sebagian dari kita tidak pernah tahu dan mencari tahu bagaimana filosofi penciptaan manusia, untuk apa manusia diciptakan, bagaimana manusia diciptakan dan apa sebenarnya tujuan hidup manusia itu. dalam note pendek ini, penulis tidak akan membahas hal tersebut. Saya hanya ingin melakukan refleksi untuk diri sendiri sebagai salah satu mahluk yang diciptakan sebagai manusia.

Potensi yang diberikan pada manusia adalah 'sangu' dari Tuhan untuk mencapai kemuliaan hidup sebagai pemimpin di muka bumi. Karena manusia memiliki potensi yang sama, sehingga kemulian hidup itu hanya akan diperoleh oleh manusia yang benar-benar menggunakan potensi tersebut secara maksimal. Saya termasuk orang yang tidak 'beriman' dengan kepecayaan nahwa Nasab menentukan Nasib, karena nasab adalah sesuatu yang termasuk dalam katagori 'irodah' Tuhan yang taken for granted bagi manusia. Dalam hal Nasab, manusia tidak pernah bisa memilih. Mungkin anda dilahirkan dari keluarga yang yang terpandang, berdarah 'biru', ningrat ataupun kaya raya, mungkin juga sebagian dari anda dilahirkan dari keluarga yang sebaliknya. dalam hal tersebut, kita memang tidak memiliki daya dan upaya, itu sudah taqdir, titik.

Sifat Keadilan Tuhan membuat saya 'beriman' bahwa hanya Kasb, ikhtiar manusia lah yang menentukan nasib manusia, bukan nasab, bukan garis keturunan, bukan riwayat keluarga, bukan juga karena dia suku tionghoa, suku badui, suku melayu, suku arab ataupun suku-suku lainnya. Kemulian hidup itu adalah berkat daya dan upaya manusia yang berusaha untuk mencapainya, darimanapun dia, seperti apapun warna kulitnya, apapun golongan darahnya. Semua orang berhak untuk hidup mulia, semua orang berhak untuk bernasib baik, dan semua orang berhak untuk sukses.

Inilah isyarat dari firman Tuhan "mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu", "kemulyaan itu berdasarkan ketaqwaan", "nasib kaum itu bedasarkan bagaimana ia merubahnya". Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah dan dalam kondisi merdeka. Bahwa Manusia itu sama-sama memiliki peluang untuk bernasib baik atau bernasib buruk dan hal tersebut ditentukan oleh amal perbuatan. Manusia bebas untuk memilih, dan ia bertanggungjawab atas pilihannya tersebut. Dan akhirnya, tentunya kita tidak boleh membanggakan diri karena berasal dari garis keturunan ningrat priyayi, sebaliknya, kita juga tidak boleh rendah diri karena berasal dari keluarga yang kurang beruntung. Sebagai manusia, kita seharusnya bersikap wajar dengan latar belakang yang kita miliki, sembari terus berupaya untuk melakukan yang terbaik. Sayyidina Ali RA, Sahabat dan Keponakan Rosululloh pernah mengatakan yang kurang lebih sebagai berikut: "laisal fata man yaqul hadza abi, walakinnal fata alladzi yaqulu hadza ana" (seorang pemuda bukanlah ia yang mengatakan "inilah ayahku", tapi ia adalah yang berkata "ini aku")Walluhua'lam...

Minggu, 31 Oktober 2010

Mereka yang Dikenang dan Abadi Sepanjang Masa

Mereka yang Dikenang dan Abadi Sepanjang Masa
M. Aliyulloh Hadi

Kita tentu mengenal Fir'aun, Raja Mesir Kuno yang dikenal dengan nama Ramses II yang mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan, yang dikenang sepanjang masa. Kita pasti juga sangat akrab dengan Alexander The Great, Raja Macedonia-Yunani dan panglima perang tangguh yang mamiliki kekuasan mulai dari Eropa, Afrika hingga Asia. Begitu juga kita sangat akrab dengan nama semisal, Ibrahim, Plato, Sokrates, Aristoteles dan tokoh-tokoh dunia lain yang hidup sebelum masehi (sebelum Nabi Isa). Nama-nama tersebut juga dikenang sepanjang masa.

Sebagai seorang muslim, tentu kita adalah pemuja Muhammad SAW, seorang Nabi dan Rosul terakhir, dimana hingga hari ini, ratusan juta orang menyebut namanya tiap hari. Begitu juga sebagai muslim yang baik, kita tentu sangat akrab dengan para sahabat nabi yang terpilih, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Abu Ubaidah, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqos, Zubair bin Awwam dan para sahabat dekat Nabi Muhammad yang lain. Mereka adalah sederet nama yang tentu menjadi sangat kita puja, kita hormati dan tentunya kita jadikan teladan.

Di era Modern, kita juga banyak mengenal tokoh-tokoh dunia. Kita mengenal tokoh tokoh pejuang HAM semacam Gandhi dan Nelson Mandela. Kita juga tidak Asing dengan Pemimpin Fasis Adolf Hitler dan Beneto Mussolini, yang konon telah melakukan pembunuhan massal terhadap jutaan rakyat tak berdosa. Selain itu, Kita juga sangat akrab dengan para intelektual modern sejak Hegel hingga Albert Einstein. Beberapa dari kita juga mengidolakan para pemikir islam modern, seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, hingga Ahmad Dahlan. Sebagian dari kita juga sangat mengidolakan tokoh islam tradisional seperti syeh Maliki, KH. Hasyim Asy'ari maupun KH. Wahab Hasbulloh, punggawa islam tradisinal Indonesia.

Sederet nama di atas hanya sebagai ilustrasi bahwa di dunia ini terdapat banyak manusia yang dikenang sepanjang masa. Meski mereka telah meninggal ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, meski kini mereka telah menyatu dengan tanah, namun nama mereka masih diingat dan dikenang olah setiap generasi.

Sebagai seorang yang masih hidup, tentu kita patut untuk bertanya, mengapa mereka dikenang? Apa sebenarnya yang telah mereka lakukan sehingga mereka abadi? Bukankah terdapat jutaan manusia lain yang hidup bersamaan dengan mereka? Inilah mungkin beberapa pertanyaan yang menurut penulis penting untuk kita renungkan barang sejenak. Paling tidak dari sanalah kita mendapatkan hikmah dari kisah-kisah masa lalu untuk dijadikan pemandu kita dalam menjalani kehidupan ini. Dari Kisah-kisah masa lalu, kita bisa belajar bagaimana seharusnya menjalani hidup ini. Banyak sekali model dan warna kehidupan yang bisa kita teladani dan kita tiru.

Sebagai sebuah panggung sandiwara raksasa, dunia ini memiliki peran-peran layaknya sebuah drama, tepatnya drama kehidupan. Ada tokoh antagonis, ada pula tokoh protagonis. Ada yang berperan sebagi good guys ada pula yang memiliki peran sebagai bad guys. Pendek kata, cerita dalam hidup ini penuh dengan warna. Beberapa dari manusia memilih peran untuk menyayangi, membantu dan selalu berbuat baik kepada sesama, sebagian yang lain memilih peran yang sebaliknya. Dari sejarah kita berkaca, bagaimana Nabi Musa dan Fir'aun menjadi tokoh yang memiliki peran yang sangat bertentangan, yang satu menyeru untuk menyembah kepada Tuhan yang Esa, satunya lagi malah mengaku sebagai tuhan. Namun demikian, ada satu persamaan di antara mereka berdua, mereka sama-sama abadi, sama-sama dikenang sepanjang masa.

Secara umum dapat kita tarik sebuah kesimpulan sementara, bahwa mereka yang abadi hingga hari ini adalah pribadi-pribadi yang unik, berani berbeda, berani mengambil resiko, dan beberapa langkah lebih maju dari masyarakat umum pada masanya, dan tentunya secara konsisten memperjuangkan apa yang mereka pilih dan yakini.

Nabi Ibrahim adalah contoh bagaimana ia berani berbeda dengan masyarakat pada umumnya, berani mengambil resiko dan pastinya selalu konsisten. Nabi Ibarahim terus memperjuangkan keyakinannya meskipun ditentang oleh masyarakat bahkan orang tuanya sendiri. Dia juga tidak pernah gentar terhadap hukuman dibakar hidup-hidup yang diberikan kepadanya.

Di samping itu, terdapat pula tokoh antagonis, yang meski dikenal sebagai biang keladi kerusakan dan teror, nama mereka dicatat dalam sejarah. Ini sesungguhnya menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya, bahwa di dunia ini terdapat model peran yang tidak baik yang tidak boleh ditiru. Bisa dikatakan, mengenal mereka hanya sebagai pengetahuan, bahwa mereka yang jahat akan mendapatkan hukuman yang setimpal.

Sebagai manusia, kita memiliki kemerdekaan untuk memilih menjadi seperti siapa dan bagaimana menjalani kehidupan ini. Kita juga bebas untuk menjadi diri sendiri. Namun demikian, sebagai manusia yang beragama, tentu kita tahu bahwa apa yang kita pilih harus juga dapat kita pertanggungjwabkan baik kepada sesama manusia maupun kepada Sang Pencipta.

Kita dapat memilih untuk menjadi orang baik dan kita juga dapat memilih menjadi orang yang tidak baik. Semuanya adalah pilihan bebas dan kita sendiri yang harus bertanggungjawab. Yang jelas, siklus kehidupan berjalan seperti biasanya, dilahirkan, tumbuh, dan akhirnya mati. Semuanya akan mengalami siklus itu. Kita tidak tahu apakah nanti nama kita akan dikenang dan abadi, atau hanya bernasib seperti orang kebanyakan, hilang ditelan waktu. Namun yang pasti, dikenang atau tidaknya seseorang tergantung pada apa yang telah dilakukan semasa hidupnya. Kata Andrea Hirata, "Ini bukan tentang seberapa besar mimpi-mimpi itu, namun ini tentang seberapa besar kita untuk meraih mimpi itu". Wallohu'alam...