Jumat, 05 November 2010

Nasab dan Nasib

Nasab dan Nasib
Oleh: M. Aliyulloh Hadi

Sebagai manusia, kita tidak dapat memilih untuk menjadi laki-laki atau perempuan, menjadi anak bupati atau pedagang asongan, tidak pernah dapat memilih untuk dilahirkan dari rahim keluarga berada atau dari keluarga kurang berada. Semuanya adalah taken for granted, sudah ditentukan dari 'sono' nya. Namun demikian sebagai seorang manusia, kita dianugerahi potensi yang sama oleh Sang Pencipta. Dari bangsa manapun dan dari keluarga apapun kita berasal, Tuhan telah menganugrahkan kepada manusia fisik yang sempurna, akal yang sehat, otak yang cerdas, hati yang halus dan peka serta jiwa yang lapang. Sebagian kecil dari manusia memang diciptakan dalam penciptaan yang kurang sempurna, ada yang cacat mental dan cacat fisik sejak dari lahir, namun hal tersebut sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa. Mereka tidak dapat memilih, tidak dapat meminta untuk bisa menjadi sempurna seperti manusia pada umumnya.
Sebagai manusia yang diciptakan dalam Kesempurnaan dhohir dan bathin (fisik dan mental), tentu kita harus selalu bersyukur. Rasa syukur tersebut salah satunya termanifestasikan dengan cara menggunakan kesempurnaan tersebut secara maksimal untuk hal-hal yang positif dan mengerahkan potensi tersebut untuk kebaikan alam smesta. Karena kesempurnaan itulah yang membuat Tuhan 'menvonis' manusia sebagai fi ahsani taqwim, puncak ciptaan yang paling sempurna dari semua mahluk yang telah diciptakan-Nya. Kesempurnaan pada manusia itulah yang membuat Tuhan mendaulat manusia sebagai Kholifah fil ardh, pemimpin di muka bumi.

Namun demikian, tidak sedikit dari kita yang menyianyiakan kesempurnaan tersebut. Bahkan sebagian dari kita tidak pernah tahu dan mencari tahu bagaimana filosofi penciptaan manusia, untuk apa manusia diciptakan, bagaimana manusia diciptakan dan apa sebenarnya tujuan hidup manusia itu. dalam note pendek ini, penulis tidak akan membahas hal tersebut. Saya hanya ingin melakukan refleksi untuk diri sendiri sebagai salah satu mahluk yang diciptakan sebagai manusia.

Potensi yang diberikan pada manusia adalah 'sangu' dari Tuhan untuk mencapai kemuliaan hidup sebagai pemimpin di muka bumi. Karena manusia memiliki potensi yang sama, sehingga kemulian hidup itu hanya akan diperoleh oleh manusia yang benar-benar menggunakan potensi tersebut secara maksimal. Saya termasuk orang yang tidak 'beriman' dengan kepecayaan nahwa Nasab menentukan Nasib, karena nasab adalah sesuatu yang termasuk dalam katagori 'irodah' Tuhan yang taken for granted bagi manusia. Dalam hal Nasab, manusia tidak pernah bisa memilih. Mungkin anda dilahirkan dari keluarga yang yang terpandang, berdarah 'biru', ningrat ataupun kaya raya, mungkin juga sebagian dari anda dilahirkan dari keluarga yang sebaliknya. dalam hal tersebut, kita memang tidak memiliki daya dan upaya, itu sudah taqdir, titik.

Sifat Keadilan Tuhan membuat saya 'beriman' bahwa hanya Kasb, ikhtiar manusia lah yang menentukan nasib manusia, bukan nasab, bukan garis keturunan, bukan riwayat keluarga, bukan juga karena dia suku tionghoa, suku badui, suku melayu, suku arab ataupun suku-suku lainnya. Kemulian hidup itu adalah berkat daya dan upaya manusia yang berusaha untuk mencapainya, darimanapun dia, seperti apapun warna kulitnya, apapun golongan darahnya. Semua orang berhak untuk hidup mulia, semua orang berhak untuk bernasib baik, dan semua orang berhak untuk sukses.

Inilah isyarat dari firman Tuhan "mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu", "kemulyaan itu berdasarkan ketaqwaan", "nasib kaum itu bedasarkan bagaimana ia merubahnya". Manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah dan dalam kondisi merdeka. Bahwa Manusia itu sama-sama memiliki peluang untuk bernasib baik atau bernasib buruk dan hal tersebut ditentukan oleh amal perbuatan. Manusia bebas untuk memilih, dan ia bertanggungjawab atas pilihannya tersebut. Dan akhirnya, tentunya kita tidak boleh membanggakan diri karena berasal dari garis keturunan ningrat priyayi, sebaliknya, kita juga tidak boleh rendah diri karena berasal dari keluarga yang kurang beruntung. Sebagai manusia, kita seharusnya bersikap wajar dengan latar belakang yang kita miliki, sembari terus berupaya untuk melakukan yang terbaik. Sayyidina Ali RA, Sahabat dan Keponakan Rosululloh pernah mengatakan yang kurang lebih sebagai berikut: "laisal fata man yaqul hadza abi, walakinnal fata alladzi yaqulu hadza ana" (seorang pemuda bukanlah ia yang mengatakan "inilah ayahku", tapi ia adalah yang berkata "ini aku")Walluhua'lam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar