Rabu, 10 November 2010

Renungan Anak Bangsa di Hari Pahlawan

Renungan Anak Bangsa di Hari Pahlawan
Oleh: ANTON DWISUNU HANUNG NUGRAHANTO

Menolak Sri Mulyani, Menolak Aburizal Bakrie, Menolak SBY, Menolak Surya Paloh dan Kaum Oligarkis adalah kewajiban anak-anak muda Indonesia. Anak Muda harus tampil secara otentik dan tidak bergantung pada modal kaum tua. Kita harus beranimemulai jaman baru. - dikutip lengkap dari milis
MENGAPA KITA HARUS MENOLAK SRI MULYANI, NEOLIBERALISME dan KONSPIRASI MODAL INTERNASIONA?

Baru-baru ini telah muncul website resmi Sri Mulyani yang digagas sebagai tonggakawal untuk memajukan Sri Mulyani Inderawati (SMI) sebagai Calon Presiden RI. Tokoh dibalik gerakan SMI for Presiden ini adalah RahmanTolleng, eksaktivis 66 yang juga dulu mendongkel Bung Karno dan membangun kekuatan politiknya di Bandung dengan mendirikan Surat Kabar 'Mahasiswa Indonesia' yang isinya hanya menjelek2kan kepribadian Bung Karno, berlagak rasional tapi akhirnya juga kalah pada rezim neofasisme Orde Baru, sebuah rezim yang juga dibangun oleh angkatan 66 dengan nada tidak bertanggung jawab. Kini eks angkatan 66 itu berulah kembali dengan mencoba sebuah gagasan untuk memenangkan politik modal asing dan Neoliberalisme yang amat-amat membahayakan kesejahteraan rakyat banyak di Indonesia.

Persoalan Neoliberalisme bukanlah persoalan jargon Pemilu saja, tapi ini persoalan realitas. Jangan bermimpi kita bisa mendapatkan neoliberalisme sesuai dengan cara-acara Amerika Serikat atau Eropa Barat. Neoliberalisme yang kita kenal bukanlah neolibrasional, kompetitif dan terbuka tapi kita adalah objek penderita darineolib itu sendiri. Untuk mencapai tahapan neoliberalisme seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat itu harus punya persyarata dasar, harus punya syarat-syarat sejarahnya sendiri dan syarat sejarah itu berpusar pada satu soal : AKUMULASI MODAL.

Negara2barat kiblat neolib telah memenangkan sejarah itu selama setidak-tidaknya 300 tahun dan kemudian sebelum sampai pada fase kapitalisme liberal, fungsi negara sudah mereka jalankan dengan benar.Adanya kedaulatan kapital, adanya hak atas modal yang diberikan negara sehingga negara menjadi otoritas yang tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan diluar negara. Fase Neoliberalisme harus punya persyaratan :

1. Akumulasi Modal yang dibentuk sejarah yang panjang

2. Kedaulatan Kapital yang dimilikiNegara dengan Mutlak

3. Negara memiliki otoritas kuat untuk mengimbangi hal2 diluar negara.

Apa yang terjadi dengan Indonesia? Indonesia dibangkrutkan oleh sistem Orde Baru yang dilandasi pembangunan dengan hutang-hutang yang hanya melahirkan kelas atas sebagai diktator modal dan kelas menengah yang kebanci-bancian. Kelas menengah kita hanya seperti benalu dalam sistem masyarakat kelas, dia tidak independen dan dia tidak lahir dari situasi yang otentik. Lalu Negara hanya dijadikan milik oleh kaum Komprador yang berkumpul di sekitaran Oligarkis dan terakhir Negara gagal mengimbangi kekuatan-kekuatan diluar negara.

Dengan tiga antitesis syarat neoliberalisme itu bagaimana kita bisa membangun sistem kapitalis rasional ? Yang ada adalah bangsa kita disodori hanya sebagai kuli-kuli modal oleh mereka. Neoliberalisme menghendaki negara tidak ikut campur dalam persoalan arus modal dan bisnis yang berkembang di tengah masyarakat. Lalu bila hal ini terjadi maka pemodal besar akan menguasai seluruh cluster-cluster bisnis yang sebenarnya merupakan ruang gerak ekonomi rakyat tumbuh. Dengan adanya penguasaan modal besar dalam seluruh sel-sel ekonomi kita maka semua hal ditentukan oleh satu soal : DIKTATOR MODAL. Denganadanya kediktatoran modal maka jangan heran bila: Biaya RumahSakit Mahal, Biaya Sekolah Mahal, hancurnya fungsi-fungsi sosial yang bisa dikendalikan negara hanya menjadi perang modal bagi kelompok privat.

Negara tidak lagi bisa tumbuh secara natural dalam perkembangan masyarakatnya, tapi negara hanya akan menjadi alat politik bagi Pemodal. Jadi tanpa adanya tiga syarat:1. Akumulasi Modal, 2. Daulat Kapital dan 3.Kekuatan Negara sebagai penjamin fungsi sosial, maka omong kosong dengan liberalisasi.

KONSTITUSI kita adalah konstitusi yang MENGHARGAI NILAI-NILAI SOSIAL. Misi utama para pendiri bangsa ini bukan untuk memanjakan kaum konglomerasi, kaum pemodal tapi dasar konstitusi kita yang disusun pada malam gelap gulita dan disahkan di tengah kegelisahan masyarakat Jakarta menunggu pendaratan Sekutu di Tanjung Priok 18 Agustus 1945 adalah 'Berusaha secara keras dalam Meningkatkan kemakmuran bersama' adalah ironis bila kemudian tugas negara 'Mencerdaskan Kehidupan Bangsa' sebagai dasar penyelenggaraan negara menjadi negara yang' Memahalkan Biaya Pendidikan'. Hajat Hidup orang Banyak dikuasai oleh Negara, menjadi hajat hidup orang Banyak dikuasai kelompok pemodal asing.

Apabila kesadaran umum telah bangkit dalam jiwa anak-anak muda untuk merebut kembali Freeport yang menghasilkan Ribuan Trilyun untuk kesejahteraan bangsa ini, menggratiskan pendidikan dan kesehatan, apabila tambang-tambang batubara tidak lagi mainan para 'hedge-fund' asing, bila anak-anak muda berhasil menghancurkan kaum feodal yang tumbuh di daerah-daerah sebagai Raja-Raja Kecil maka kita bisa memulai jaman baru bagi IndonesiaRaya - Sebuah Kemerdekaan Kedua, setelah melewati jaman gelap begitu lama-.

Menolak Sri Mulyani, Menolak Aburizal Bakrie,Menolak SBY, Menolak Surya Paloh dan Kaum Oligarkis adalah kewajiban anak-anak muda Indonesia. Anak Muda harus tampil secara otentik dan tidak bergantung pada modal kaum tua. -Kita harus berani memulai jaman baru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar